Thursday, January 18, 2018

crowds of feelings

Selalu menyukai suasana bandara dan stasiun.
Entah bandara dan stasiun apapun itu, bagus jelek, gede kecil, apapun.
Memang sih, i'm not that type of person who likes to be in a crowd.
But somehow, i love seing crowds, those airport and station kinda crowds.

Some going in groups, family, friends. And some are alone.
Yep, just like what i love to do. Pergi sendirian, meskipun di kota tujuan pasti ada yang ditemuin.
Yaaa kayak sekarang.
Sedang mengetik ini di ruang tunggu bandara, menunggu flight yang masih satu jam lagi.
Beberapa saat lalu Sisca cuma melihat, banyak yang ngga sadar, beberapa sadar dan terjadilah saling tatap layaknya di film-film, sayangnya yang sadar justru bapak-bapak dan ibu-ibu. Hehe. Gapapa.

I get to see lot of things here.
Lot of people, lot of faces, lot of feelings
Some going on vacation, some going back home, dan sadly mungkin beberapa have a flight untuk sebuah kabar duka. Mm hm, that's not the kind of flight i would love to take.
I had one before, waktu dikabarin almarhumah nenek sakit dan dirawat di jakarta. And that flight sucks. You don't get to enjoy the feeling of floating, thousand feets above the land. You don't get to feel the atmosphere. The feeling when you look out the window at sunset, or sunrise, or even when there's a rainbow.
All you could feel is like stuck in a dark dark cloud, all thunders, and pouring rain.
Bandara & stasiun punya jutaan rasa,
sayangnya, "sedih" memang jadi salah satunya.

Dan sekarang?
Mungkin flight kali ini akan sangat menyenangkan, ke Jakarta, ketemu saudara2, tempat dimana aku bisa jadi 'aku'.
Tapi alasan aku pergi mungkin sangat tidak menyenangkan.
Itulah hebatnya bandara, atau stasiun.
Aku suka.

Monday, January 15, 2018

aye!

uhm.. hay..
yaampun, i do even forget how to begin a blog post.
well, um, it's me again. yep.
all the way from 2011 and now i'm here, writing in 2018.

yaa, tau kok,
kenapa tiba-tiba?

jadi, ceritanya,
beberapa hari lalu, old friend of mine sent me a screenshot from my blog post about my 9th-graders.
ngakak? tentu, but that's when i realized that, ternyata salah satu cara mereka bernostalgia juga ga beda sama aku.
yes, some of them still do read.
seneng? ya seneng lah, ternyata masih ada yang baca juga blog alay menye nggilani ini.
i was about to delete this blog, to be honest.
so thank you, old friend. for reminding me how important this blog was, and is.

dan ternyata aku kangen jugaaaa rasanya ngeblog. like, real blogging seperti post yang dulu-dulu.
nulis hal super random, tentang kejadian-kejadian apa aja yang aku laluin.
ngga cuma dateng, mampir, copy pasting (not so) poems yang udah ditulis di notes hp, terus udah.
karena ini blog emang seharusnya menjadi tempat menulis yang lebih pure.
untuk post-post yang lebih appropriate, aku sudah punya tumblr yang meskipun private tapi yaudah lebih baik blog ini tetap menjadi yang seharusnya saja.
tapi aneh ya yang appropriate malah private, yang inappropriate malah public.
hehe namanya juga sisca.

aku tuh kangen menulis yang ngga perlu mikirin apakah the phrases and the diction good enough.
atau, duh, orang-orang bakal suka ngga ya?
atau, aku harus pakai bahasa yang keren, poetic. anjay.
i miss writing things yang ga perlu semua orang bisa relate to.
yang suka di check in Alvin setiap 6 jam sekali (and yes, katanya dia lebih suka baca blogku yang isinya random ga jelas, daily things, stupid things, yg bahasanya ancyur).
lagipula, setelah scrolled down my post drafts, i realize how important it is to write things yang, again, bener-bener pure how i feel.
karena beberapa tahun ke depan, aku akan sangat senang kalau bisa mengembalikan memori dengan membaca apa aja yang udah aku laluin dan gimana perasaan aku di masa itu.

i love to collect moments, and i feel like photographs are just not enough.

but anyway, some (a lot actually) blog posts aku draft karena kelewat alay.

sumpah gaes wuelek bahasaku:)))
like, did i really write those craps? what was i thinking?
padahal topiknya sangat nostalgic tapi yasudahlahya benar-benar tidak appropriate.
setidaknya masih bisa aku nikmati sendiri dalam bentuk draft lah.
but, posts that related to my mutiara bunda friends, aku putuskan untuk tidak lagi aku draft.
sebelumnya aku draft, tapi rasanya post-post itu sudah jadi milik mereka juga.
meskipun dengan bahasa dan inggrisan yang super seadanya terutama grammar yang sangat ancyur dan gatau kenapa aku pede banget nulisnya wkwk tapi gaakan aku edit deh, biarkanlah menjadi bukti progressku.

untuk kedepannya, no, i won't write stuffs like "ditinggalin sahabat demi pacar" or "galau gara-gara temen genk berantem" no more.
hahaha nope, you'll never see that kind of post again.
sebisa mungkin Sisca kembali menulis daily things yang ngga kelewat alay seperti dulu.

mungkin aku akan lebih banyak menulis tentang kehidupan perkuliahanku,
atau mungkin post-post disini masih akan tentang nostalgia, karena di blog ini terlalu banyak memori masa SMP ku.
ah, kita lihat saja nanti ke depan.
doakan saja Sisca bisa komitmen kembali ke blogspot, karena for God sake tugas kuliah semester 3 kemarin almost killed me.

udahan kali ya, Sisca menulis ini nyambi bikinin subtitle buat film sebelah.
so, later?

kecup,
siscawn.

ditulis oleh Narendrasasi (old post)

hmm... sisca udah cerita banyak ya tentang temen2nya?? sekarang aku bakalan nyeritain tetang dirinya HUAHAHAHA #evillaugh
kalian tau, apa KEBIASAAN BURUKNYA di sekolaah?????
dia itu sukanya mbanyol di sekolah!! -__-"
po'e band \m/
dia suka meragain mukanya jadi kayak babi ato apapun yang bikin anak2 ketawa ngakak
tapi, aku lebih sering ketawa ngakak kalo liat dia ketawa ngakak duluan...
yang bikin kita semua geregetan itu LOLA alias loadingnya lama -_-"
hmm... dia itu anak yang paling rame di antara po'e band -__-
aku kadang seneng banget, bersyukur banget punya temen kayak dia
tapi kadang-kadang aku ngomong gini "ya Tuhaan, kenapa aku harus punya temen kayak diaa?" sangking geregetannya sama kelakuan-kelakuannya -__________-

Friday, January 12, 2018

pada surga berbeda, semu kita sama, bahagia.

dan kemudian, tiba dimana kita menyerah pada pertemuan
tatap jadi usaha rangkai aksara
meski tetap sulit tuturkan bahasa
lalu bungkam kembali menjadi cara, tak tau harus apa

katanya, semua tak melulu tentang logika
atau kepercayaan yang selalu kita puja
tapi kali ini aku menyerah, tak ingin lagi memaksa
bicara perihal hati, apa pantas jadi alasan?

sama-sama pergi ingin menjaga surga
surga siapa? surga saya, surga dia
lihat, bahkan untuk mati saja berbeda
namun setidaknya saat ini kami menyerah atas hal sama

sebuah semu bernama bahagia